CERITA KAMI

Seminar Pendidikan Karakter Berbasis Kelas

07-12-2018 09:43

"Non Scholae, Sed Vitae Discimus," yang artinya kurang lebih "kita belajar bukan untuk sekolah, melainkan untuk hidup." Demikian diungkapkan Bapak Satriyo, wakil manajemen PT Kanisius, dalam sambutannya pada Seminar Pendidikan Karakter Berbasis Kelas yang diadakan di Ruang Kepodang PT Kanisius, Sabtu, 17 November 2018. Seminar ini dihadiri oleh sekitar 175 peserta, baik dari Yogyakarta maupun luar Yogyakarta (Cilacap, Purworejo, Kebumen, Muntilan, Cimahi, Serpong, Sumatra Selatan, Wonogiri, Semarang, dll).

Hadir sebagai pembicara adalah Bapak Doni Koesoema A. STF. MEd., anggota tim pokja PPK Kemdikbud sekaligus penulis buku Pendidikan Karakter Berbasis Kelas, dan Ibu Admila Rosada, M.Psi., Psikolog., Kepala Pusat Studi Inklusi Sekolah Tumbuh Yogyakarta, sekaligus penulis buku Menjadi Guru Kreatif.

Mengapa pendidikan karakter menjadi hal yang sangat penting? Dalam sesinya Pak Doni mengungkapkan bahwa bangsa Indonesia adalah bangsa berbudaya yang menjunjung tinggi akhlak mulia, nilai-nilai luhur, kearifan, dan budi pekerti. Pendidikan Penguatan Karakter membekali peserta didik dengan jiwa Pancasila dan pendidikan karakter yang baik untuk menghadapi dinamika perubahan masa depan. Sekolah, masyarakat, dan keluarga merupakan ekosistem pendidikan yang bersinergi, maka hendaknya kelas menjadi lingkungan belajar yang ramah secara moral. Lebih dari itu, pendidikan kurikulum saat ini berintegrasi dalam kurikulum sehingga sekolah sungguh dapat menjadi lingkungan yang sesuai untuk menanamkan karakter baik pada anak. Karakter adalah sesuatu yang tetap dilakukan meski tidak dalam pengawasan. Sekolah dengan pendidikan karakter baik dapat dipastikan menghasilkan output yang baik pula.

Ibu Admila mengawali sesi kedua dengan meminta dua peserta untuk memperagakan permainan Do as I say, not as I do atau Lets do what I say atau “Lakukan apa yang aku lakukan atau Lakukan apa yang aku katakan”. Pendidikan karakter dalam dunia pendidikan menjadi wadah atau proses untuk membentuk pribadi anak agar menjadi pribadi yang baik. Untuk itu, para pendidik, dalam hal ini guru (dan orang tua) perlu memberikan contoh perilaku yang baik. Contoh tersebut maksudnya pendidikan tidak hanya disampaikan melalui perkataan, namun juga diberikan dalam tindakan yang nyata. Pendidikan karakter hendaknya disampaikan secara konsekuen dan konsisten.

Selanjutnya, beberapa peserta berkesempatan mengajukan pertanyaan utamanya yang berkaitan dengan pendidikan karakter anak didiknya. Secara keseluruhan, materi disampaikan dengan sangat interaktif hingga tidak terasa selama sekitar 3 jam sebanyak 175 peserta berproses bersama. Tidak tampak adanya wajah-wajah bosan “menguap” dan peserta yang berjalan pelan meninggalkan ruangan sebelum selesai acara.

Suatu karakter tidak dapat dibangun dengan amat mudah, perlu pengalaman dan pembiasaan. Untuk itu, harus sejak dini ditanamkan kepada anak melalui pendidikan yang diterimanya. Benar, pendidikan karakter tidak dapat dipisahkan dari dunia pendidikan. Oleh karenanya, tangan-tangan bapak/ibu guru sekalianlah yang turut serta berperan membangun Indonesia yang berkarakter. Bersedia?!

*Cicilia Heni – Redaksi Kependidikan-Umum