CERITA KAMI

Candi Prambanan: The First High Rise Building in South East Asia

22-05-2018 14:14

Membaca buku EKSISTENSI CANDI SEBAGAI KARYA AGUNG ARSITEKTUR INDONESIA DI ASIA TENGGARA menimbulkan kebanggaan dalam diri saya. Betapa tidak? Buku ini memberi bukti adanya penyerapan unsur arsitektur Indonesia dalam arsitektur Kamboja dan menunjukkan bahwa candi Jawa telah menjadi sumber inspirasi yang kuat bagi desain bangunan-bangunan candi di kawasan Asia Tenggara. Dengan kata lain, arsitektur Indonesia sangat eksis dan terkenal di kawasan Asia Tenggara. Penyusun buku ini, Dr. Rahadhian Prayudi Herwindo bersama tim, telah mengadakan serangkaian penelitian dan menemukan bahwa Candi Prambanan dan Candi Borobudur menjadi rujukan desain kuil di kawasan Asia Tenggara. Candi Prambanan bahkan menjadi “The first high rise building in South East Asia”, sebelum Menara Petronas dan Angkor.

Buku ini menelaah desain bangunan candi dari sudut pandang disiplin arsitektur yang dapat melengkapi referensi perihal percandian yang selama ini tinjauannya lebih bersifat antropologis dan arkeologis. Dengan ketekunan menggali arsitektur candi, Tim Peneliti menemukenali konsep tatanan, geometri, sosok, unsur-unsur, dan proporsi candi yang menunjukkan kekhasan kekayaan khazanah arsitektural yang terdapat di Nusantara.

Salah satu Tim Penyusun, Dr. Yuswadi Saliya menuliskan: Sulit bagi saya untuk membayangkan arsitektur Indonesia atau Nusantara tanpa menyimak perjalanan perujudan candi dengan segenap rajah geometrinya yang muktamat itu. Jadi, seperti bersajak: dalam candi tersimpan sandi. Untuk bangkit kembali, itulah yang kini harus dikaji, sampai tergali hasrat dan semangat yang asli, yang asali, yang sejati. Kisi-kisi candi merupakan awal yang bagus, tidak perlu mulai dari nol. Maka, untuk maju, tidak harus menelusuri kembali dari zaman batu. Seperti halnya tak perlu mencipta ulang roda untuk maju, maka alih-alih mendirikannya kembali, muruah arsitektur candi pun ‘kan tetap abadi dengan menyimak saripati inti api sesanti sandinya. Selangkah lebih maju, desa kala patra, kata orang Bali dengan fasih.

Semoga buku ini dapat menggugah semangat dan sikap nasionalisme yang kuat dan penghargaan terhadap tradisi Indonesia melalui arsitektur, baik secara umum (sejarawan, arkeolog, dan sebagainya) maupun secara khusus bagi para arsitek, akademisi-sarjana arsitektur Indonesia. Selain itu, candi-candi Nusantara sebagai warisan budaya bangsa juga dapat dimanfaatkan lebih baik, sebagai sumber pengembangan ilmu pengetahuan, pendidikan, sejarah, juga sektor kepariwisataan.

*Rosalia Emmy, editor