CERITA KAMI

Bedah Buku Novel Tarian Dewi Cinta

23-05-2018 10:14

“Novel ini sudah memenuhi kriteria sebagai novel yang layak difilmkan”

—Ayu Utami—

 

Bertempat di Ruang Paideia, Sanggar Prathivi Building, Pasar Baru, telah dilangsungkan acara Talk Show dan Launching novel Tarian Dewi Cinta, novel kedua karya Rm. B.B. Triatmoko, SJ. Hadir dalam acara ini Rm. B.B. Triatmoko, SJ (penulis), Dr. Yohanes Temaluru (Saksi Sejarah Mei ‘98), dan Ibu Ayu Utami (Novelis). Turut hadir dalam acara ini Direktur Sanggar Prathivi, Rm. Rudianto, SJ, Direktur PT Kanisius, Ibu Mg. Sulistyorini, Manajer Penerbitan PT Kanisius, Bpk. Satriyo Sinubyo, dan beberapa tamu undangan.

Acara Talk Show yang dipandu oleh dua staf PT KANISIUS berlangsung dengan sangat menarik, banyak diskusi cerdas dan inspiratif yang muncul. Bapak Anis—sapaan Dr. Yohanes Temaluru—mengisahkan bagaimana suasana mencekam yang terjadi 20 tahun lalu saat terjadi tragedi Mei ‘98. Beliau bercerita saat harus menemani para mahasiswa melakukan aksi demonstrasi, menjaga dan mengawal para mahasiswa. Beragam teror yang beliau alami tak  menyurutkan langkah beliau untuk terus menemani para mahasiswa. Kebetulan saat itu beliau menjadi Wakil Rektor bagian kemahasiswaan. Apa yang diperjuangkan oleh para mahasiswa saat itu akhirnya berbuah, pemerintah saat itu mundur dari kekuasaan, dan berganti rezim Reformasi. Yang menjadi keprihatinan beliau saat ini adalah kurangnya pemahaman para mahasiswa baru zaman now tentang tragedi ‘98. Ini yang kemudian menjadi PR bagi pelaku dan saksi sejarah.

Romo Moko, sapaan akrab Rm. B.B. Triatmoko, SJ, sebagai penulis pun mengisahkan perjalanan beliau dalam menggarap novel ini. Novel ini adalah salah satu wujud nyata untuk mengingatkan generasi zaman now dengan gaya sastra yang kekinian. Romo Moko menyadari bahwa tanggung jawab untuk mengingatkan peristiwa ‘98 ini adalah tanggung jawab bersama. Peristiwa ‘98 bisa dimaknai sebagai “kelahiran kembali” Republik Indonesia. Sebagai “kemerdekaan kedua” Republik ini. Romo Moko dengan cerdas menggunakan simbol yang sangat kuat dalam novelnya, yaitu tarian.

 

“Menari adalah cara alam semesta mengekspresikan diri dikala kata-kata membatasinya. Jadi tarian adalah ungkapan jiwa alam semesta. Tarian adalah ungkapan jiwa manusia. Ketika kita kehabisan kata untuk mengungkapkan perasaan kita, secara alamiah kita akan mulai bergerak, entah dengan melompat-lompat kegirangan, atau mengepalkan tangan sebagai ungkapan marah, atau tersipu malu karena pujian cinta. Tarian adalah usaha manusia untuk menghaluskan rasa sehingga bisa membawa ke tingkat kedalaman batin, tidak hanya bagi penarinya, tetapi juga bagi mereka yang berada di sekitarnya. ”

 

Itulah sepenggal ungkapan dari novel Tarian Dewi Cinta. Selain simbol tarian, nama-nama tokoh dan tempat dalam novel ini pun mewakili kekaguman Romo Moko akan sosok-sosok mereka, seperti Gusti Nurul, Pangeran Herwasto Kusumo, Consolmagno, Venus (Dewi Cinta), Solo, Trisakti, Yogya, kebun teh Kemuning, Boston, MIT, dan sebagainya.

Dari sisi seorang novelis, Ibu Ayu Utami, seorang yang sangat akrab di dunia novel Indonesia, juga menyerukan hal yang sangat inspiratif. Novel Tarian Dewi Cinta ini, sudah sangat terstruktur, dan layak difilmkan. Novel ini sudah memenuhi standar sebagai novel yang bisa difilmkan, sebagai salah satu bentuk media komunikasi zaman now untuk mengingatkan sekaligus memberi tahu bahwa pernah ada peristiwa ’98 yang sungguh mencekam. Dengan wujud video, akan lebih banyak orang muda mengaksesnya. Bagi Ayu Utami, simbol-simbol yang muncul dalam novel ini juga menunjukkan bahwa novel ini benar-benar dipersiapkan dengan serius plot, alur, tokoh, setting tempat, klimaks, dan moment-moment yang bisa dimasukkan dalam kisahnya.

Kehadiran novel Tarian Dewi Cinta ini pada akhirnya ingin mengajak orang-orang muda zaman now, juga para saksi sejarah peristiwa Mei ’98 untuk merefleksikan dan mengenang peristiwa mencekam itu. Bahwa peristiwa itu sampai sekarang belum tuntas, dan masih menjadi misteri, benar adanya. Namun, yang jauh lebih penting adalah menanamkan dalam diri generasi zaman now semangat untuk berani menyerukan kebenaran untuk kebaikan bersama.

*Widiantoro-editor redaksi Gerejawi