DARI MEDIA

Mendidik Atas Nama Tuhan

12-11-2018 09:16

Terima kasih kepada harian Jawa Pos Radar Madura dan Saudara Redi Ismanto atas pemuatan resensi Mendidik Atas Nama Tuhan dari buku "Kekuatan Cinta Sang Guru" dimuat Rabu, 7 November 2018. Berikut adalah nukilan resensi tersebut;

Data mengungkapkan bahwa saat ini peserta CPNS (Calon Pegawai Negeri Sipil) terbanyak sepanjang sejarah. Sebagian CPNS tersebut terdapat formasi guru.  Satu kursi di formasi ini diperebutkan ribuan orang. Perjuangan tidak kepalang. Guru PNS memang idola. Sejalan dengan beragam kenaikan pendapatan profesi guru, naik pula animo masyarakat untuk menjadi sosok yang bisa digugu dan ditiru tersebut.

Buku ini mengisahkan pula orang-orang yang berhasrat menjadi guru karena keterpanggilan, bukan karena hasrat mendapatkan income. 30 guru yang berkisah dalam buku ini meyakini bahwa mendidik siswa adalah tugas yang Tuhan titipkan kepada mereka. Tidak heran jika latar belakang pendidikan mereka tidak semuanya sarjana pendidikan.

Ada yang menjadi guru diawali paksaan keluarga. Ada pula yang kurang suka dengan profesi guru karena tidak memberikan kesejahteraan finansial. Lalu bekerja dari satu pekerjaan ke pekerjaan lain dengan gaji lumayan besar. Di titik waktu, rasa bosan datang. Hatinya menyuruhnya untuk mengajar. Dia juga heran mendengar suara hatinya tersebut. Makin lama makin membuncah. Lalu dia benar-benar mengajar dan mendapatkan kebahagiaan luar biasa walaupun dia digaji hanya 100 ribu sebulan.

Panggilan Tuhan menelusup ke berbagai sebab. Tidak ada yang tahu apa sebab yang memungkinkan  hati bergerak untuk menjadi guru. Satu hal yang pasti, dari satu sebab tertentu Tuhan memberikan rentetan sebab-sebab lain hingga yang bersangkutan all out  menjadi guru.

Bagian kedua buku ini mengisahkan guru yang mendatangi tiap rumah agar orangtua terketuk hatinya menyekolahkan anaknya. Guru-guru yang dikisahkan dalam buku ini bertugas di sekolah pelosok, lereng gunung atau desa terpencil. Mereka berhadapan dengan resistensi masyarakat yang kadang tidak mengerti urgensi pendidikan. Kadang pula mereka berhadapan dengan bangunan sekolah yang tidak memadai atau jumlah guru yang sangat kurang dan memaksa mereka kreatif memanfaatkan tempat, tenaga dan waktu.

Ada kejadian-kejadian yang kemudian membuat semakin yakin bahwa mereka adalah perpanjangan Tuhan mendidik sesama. Misal, ada guru karena kecelakaan, dia harus menggunakan kruk ke sekolah. Awalnya dia tidak percaya diri. Bagaimana bisa mengajar sementara untuk berdiri saja dia sangat sulit. Namun dia sangat terharu ketika siswa-siswanya berebut membantu dia berjalan, menulis di papan, membawakan bukunya dan membelikannya makanan dan minuman di kantin. Dia merasa mereka adalah malaikat yang diutus Tuhan untuk membantunya. Puncaknya, ketika dia positif hamil. Anugerah yang sekian tahun dia harap kini hadir. Ini membuatnya percaya bahwa kesulitan di jalan pendidikan adalah pertanda bahwa anugerah besar Tuhan  segera datang.