DARI MEDIA

Dedikasi Guru dalam Mendidik Siswa Berkebutuhan Khusus

04-12-2018 10:20

Menjadi guru adalah pilihan mulia. Berprofesi menjadi guru artinya siap mengabdi untuk mengarungi suka-duka mendidik generasi muda agar bisa meraih masa depan. Jelas menjadi guru bukan hal mudah. Terlebih guru bagi anak berkebutuhan khusus, butuh kecakapan, kompetensi, dan kesabaran yang ekstra. Namun, perjuangan mendidik anak berkebutuhan khusus membawa banyak hikmah dan nilai-nilai inspiratif yang luar biasa. Hal tersebut tergambar dalam buku Raih Prestasi dalam Sunyi.


Buku ini berisi 20 kisah inspiratif para guru di SLB B Pangudi Luhur Jakarta Barat dalam mendedikasikan hidup untuk mendidik anak-anak tunarungu. Melatih anak-anak tunarungi untuk berbicara dan mengerti materi pembelajaran menjadi tantangan tersendiri. Para guru SLB B Pangudi Luhur memiliki kisah masing-masing dalam berjuang, menikmati, dan mensyukuri proses tersebut. Meski banyak persoalan dan hambatan, mereka tak pernah menyerah, sebab mendidik anak tunarungu sudah menjadi panggilan jiwa.

Salah satu strategi yang diterapkan dalam melatih konsep berbicara pada anak tunarungu adalah memantik semangat berkompetisi. Seperti dilakukan Bruder Anton Marsudiharjo. Lulusan terbaik SPG LB Negeri Kalibayem Yogyakarta ini memiliki trik untuk memacu semangat belajar anak-anak. “Saya punya trik, anak tunarungu cenderung senang berkompetisi. Mereka senang sekali jika diuji kebolehannya,” tulisanya. Tak jarang, Bruder Anton menyiapkan roti dan angpau sebagai hadiah untuk anak didiknya (hlm 19).

Terima kasih kepada Koran Jakarta dan Saudara Al-Mahfud atas pemuatan resensi berjudul Dedikasi Guru dalam Mendidik Siswa Berkebutuhan Khusus dari buku Raih Prestasi dalam Sunyi. Dimuat Minggu, 2 Desember 2018.